THINK, LEARN, AND GO!

Whatever! i'll write it down:)

0 notes

Kaus Kaki

Pagi tadi aku teringat sepasang kaus kaki putih, yang tergantung terabaikan sejak Februari lalu. Atau Januari, entahlah. Sepasang kaus kaki putih tergantung terabaikan ketika aku merasa hidup sudah cukup hangat.

Musim hujan dulu sepasang kaus kaki putih kueratkan pada kaki. Setelah berlelah menjalani hari sore kuhabiskan menontoni hujan dari jendela kamar dengan piyama - sepasang kaus kaki putih. Aku catatkan detil pertemuan denganmu tadi, sapaan seadamu, dan warna kaus polomu. Aku sangat mengagumimu hai si pemberani. Kucatatkan namamu dengan metafora hujan agar memori tentangmu melebur bersama keindahan.


Sepasang kaus kaki putih menemani satu perjalanan ke makam. Pagi ketika itu menipuku dengan warna mendung, sweater dan syal merah jambu melekat pada tubuhku. Ternyata, terik matahari juga layak dinantikan bagi kita yang mencari inspirasi kebaikan di atas tulang belulang manusia. Aku rasa, aku keterlaluan menggemari hujan. Aku menggenggam kerikil yang menutupi makam, duduk di sana sampai kamu memanggilku pulang. 

Sejak saat itu, memakai sepasang kaus kaki terasa lebih menyenangkan. Manisnya.

0 notes

Subuh

Di setiap subuh ada yang menyampaikan rindu yang tidak pernah habis padaku. Yang mengalir jatuh di sela air wudu.

Ibu diam diam berdoa lirih. Keselamatanku. Kepulanganku.

Rindunya jatuh. Lalu diambil dan dipelihara langit. Di setiap subuh, sekarang sudah tahun keduapuluh.

0 notes

Catatan Teramat Singkat Dari Novel Pulang

(1)
“…Kenapa kamu harus meletakkan dirimu lebih rendah dari siapapun?” (tokoh) Retno dalam novel “Pulang”

Sering kita menghargai manusia dengan teramat sangat. Tiada sadar kita rela mencium tanah, lupa bahwa kita juga bisa meraih cahaya. Bahkan kita adalah cahaya.

Dari novel “Pulang” aku belajar, sewaktu kita harus kembali untuk menjadi diri kita. Diri kita, tiada kita menempatkannya lebih rendah.

Kita benar-benar butuh ‘pulang’ untuk tahu siapa diri kita. Itulah yang diam-diam selalu kita inginkan.

Dalam “Pulang”, sering diungkit kata dalam bahasa Perancis “flaneur”, yang artinya pengembara. Ketika manusia selalu mencari. Mencari apa yang tidak ada padanya. Kemudian kembali, ketika pencarian meletakkan dia di tempat yang seharusnya.

Seharusnya, saat manusia telah melakukan hal baik sebaik-baiknya. Seharusnya, hingga seterusnya.

(2)
Cinta tidak akan pernah bisa pergi, meskipun kita sudah menemukan cinta lain. Seperti kata Queen, “How I still love you..”.

Kalimat berbahasa Perancis lain dalam novel Pulang yang menyenangkan untuk dikutip: ‘Le coupe de foudre’ artinya cinta pandangan pertama. Aku mengartikannya, kita memutuskan, memilih untuk jatuh, bersama-sama dengan satu pandangan mata makna pertama.

‘Le coupe de foudre’ selalu menyenangkan di awal. Akhirnya bisa sama menyenangkan. Atau membuat kita menangis di meja belajar, di bawah jendela kamar.

(3)

“Pulang” menyajikan kenangan yang diawetkan (istilahku): setoples kunyit, cengkih, dan untaian bunga melati. Biarkan, kita berjalan dengan sekotak kenangan yang diawetkan. Agar tetap ‘berpunya’ ketika kehilangan. Diri kita terserta, saling terserta. Semua orang berhak kan, menyimpan setoples kunyit, cengkih, atau untaian melati? Adakalanya, kita harus menyerah untuk itu.

Terjatuh, tetapi tidak mungkin untuk meraih. Akhirnya pergi mundur, tanpa kehendak melupakan, tanpa ingin kehilangan.

Aku menyerah, tapi tidak pernah merasa rendah ketika memutuskan untuk mencintaimu. Dengan teramat sangat.

0 notes

Untuk apa mengucapkan selamat tinggal, bagi dia yang tidak pernah datang

(1)

“Buku, dimana para aksara menjalin asmara dengan ilmu pengetahuan”. Kesepakatan dalam pikiran kita yang dilekatkan.

Kita berdua, bicara tentang bagaimana ada menjadi ada, ada ke tiada dan tiada yang menggenapkan ada. “Bahasa dialektika”.

Untuk apa, berdua bicara dengan bahasa dialektika, bermain-main dengan aksara? Tanpa satu cita sederhana: saling bertukar cinta.

(2)

Kembalikan senyum yang kuberi padamu kemarin dulu. Senyum buru-buru, yang kamu balas ragu.

Aku yang mencarimu. Meski tahu, permata kita hanyalah cerita ‘buku-buku saja’. Aku yang mencarimu, demi cerita persetan cita dan cinta!

(3)

Untuk apa… bahkan kamu pun tidak pernah datang, aku tidak ucapkan selamat tinggal. Lupakan buku, aksara, dialektika dan cerita.

Akhirnya kita hanya bertukar senyum, buru-buru dan ragu-ragu. Di antara langit terik dan lantai batu yang beradu. Dengan sepatu.

 

0 notes

Sepenggal Tinggal

Kamu adalah bagian dari keindahan soreku. Bagian dari doa dalam sembahyangku.

Bagian dari keinginan bertemu bernama rindu. Hanya karena, aku mencintaimu

Bagian darimu yang terlanjur tertinggal. Cerita akan impian masa kanak-kanak. 

Cerita punyamu yang selalu terletak dalam benak.

Ada yang pergi meninggalkan, satunya memutuskan untuk tinggal. Pergilah, lari dan kejarlah. Aku diam tinggal, menjaga cerita.

0 notes

Monolog

Sungguh aku ingin menyerah.

sebelum monolog kugumamkan untuk kedua kalinya.

Lagi, monolog. Meskipun antara kita tercipta kata.

Tetapi cinta, tidak cukup tergoda dengan aksara.

Anyer 25 Mei 2013